Iklan

Hadiah Ultah Tante Mita

Ini terjadi ketika aku berumur 17 tahun, kelas 2 SMU. Sudah lama sekali, tapi kesannya yang mendalam membuat aku tidak akan pningh bisa lupa. Aku bahkan bisa mengingatnya dengan detail.
Hadiah Ultah Tante Mita
Hadiah Ultah Tante Mita

Aku memanggilnya Tante Mita . Orangnya baik, supel dan enak diajak ngobrol. Wajahnya sih biasa saja, tapi menurutku manis. Yang jelas, kulitnya putih mulus dan body-nya mantap dan kemana-mana dia selalu berjilbab. Waktu itu usianya sekitar 30 tahun, punya 1 anak laki-laki yang masih kecil. Keluarga Tante Mita  tinggal di Surabaya. Dia sendiri tinggal di Jakarta selama 1 tahun untuk mengikuti suatu pendidikan. Selama di Jakarta, dia tinggal di rumah kami. Kebetulan rumah kami cukup besar, dan ada satu kamar kosong yang memang disediakan untuk tamu.
Aku lupa, Tante Mita  mengikuti pendidikan apa di Jakarta. Dia kursus sore hari dan pulangnya sudah agak malam, sekitar jam 8. Oleh karena itu, aku mendapat tugas menjemput naik motor. Awalnya sebel juga jadi “tukang ojek” begitu. Untung cuma 2 kali seminggu. Tapi, lama-lama aku malah senang. Kami cepat sekali menjadi akrab. Tante Mita  tidak canggung-canggung lagi memeluk pinggangku bila ia menumpang naik motor. Sesekali aku dapat merasakan tonjolan buah dadanya yang menekan empuk punggungku. Itu makanya aku jadi senang. Waktu itu terus terang aku belum punya pacar, jadi bersentuhan dengan perempuan adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku.
Hari itu aku berulang tahun yang ke 17. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, orang tua dan adikku memberi selamat. Cuma Tante Mita  yang tidak. Aku jadi sebel. Apakah aku betul-betul cuma dianggap sebagai “tukang ojek” selama ini? Tapi ternyata dia memilih cara lain. Ketika aku sedang membereskan tas sekolahku di dalam kamar, Tante Mita  masuk. Kukira dia mau memberi ucapan selamat, tapi ternyata tidak juga. Dia bilang, seharusnya sweet seventeen dirayakan secara khusus.
“Nggak ada uang,” jawabku asal-asalan.
Tante Mita  mengusap pipiku.
“Nanti sore kita rayain berdua,” katanya, suaranya pelan sekali.
“Tante mau kasih kado spesial buat kamu.”Aku jadi deg-degan.
Di sekolah, pikiranku ngelantur tidak karuan, ulanganku jadi jeblok banget. Aku penasaran, apa betul Tante Mita  mau memberi kado spesial. Entah kenapa, aku mulai membayangkan yang bukan-bukan.Karena tidak sabar, ketika jam istirahat aku ke telepon umum di seberang jalan. (Waktu itu belum ada HP). Di rumah cuma ada Tante Mita  dan si Mbok. Aku hampir-hampir tidak bisa ngomong waktu denger suara Tante Mita  yang merdu. Dengan lugu, akhirnya aku berterus terang bahwa aku penasaran.
“Selama ini kamu baik sekali sama Tante. Jadi, kamu boleh minta apa pun yang kamu mau.” Kata Tante Mita ,
“Kalau Tante sendiri mau kasih apa?” tanyaku.
“Ya nanti dong!”
“Nggak sabaran nih!”
“Pulang aja sekarang kalau nggak sabar. Bisa kabur, kan?”
“Tapi nanti aku ada ulangan!”
“Ya udah, terserah kamu!”Aku jadi tambah penasaran.
Obrolan di telepon membuat pikiranku bertambah jorok. Entah bagaimana, feeling-ku mengatakan bahwa Tante Mita  “naksir” aku. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pulang saat itu juga. Kukebut motorku.TanteMita  tersenyum ketika membukakan pintu.
“Si Mbok baruuuuu aja ke pasar!” katanya tanpa kutanya, seperti memberi isyarat bahwa situasi rumah benar-benar aman untuk kami.
Aku jadi tambah deg-degan. Pikiran jorokku bertambah. Lebih-lebih saat itu Tante Mita  mengenakan daster yang potongannya rada sexy.
“Kadonya mana?” tanyaku tidak sabar.
“Nanti dulu dong!” jawab Tante Mita .
Lalu aku disuruh menunggu di ruang duduk keluarga, sementara dia masuk ke kamar. Aku duduk di sofa sambil membuka sepatu. Tidak lama, Tante Mita  keluar kamar, tapi aku tidak melihat dia membawa kado. Sambil memandangi dia berjalan ke arahku, aku berpikir,
“Ngapain dia tadi masuk kamar?” Aku menemukan jawabannya beberapa saat kemudian, ketika kelihatan olehku kedua puting susunya membayang di balik daster.
Rupanya di kamar tadi dia cuma membuka BH. Lalu, mana kadonya?
“Merem dong!” kata Tante Mita  sambil duduk di sebelahku.
Aku menurut, kupejamkan mataku. Jantungku semakin bergemuruh. Kurasakan kelelakianku mulai bangkit, anuku mulai mengeras. Lebih-lebih ketika kurasakan nafas Tante Mita  dekat sekali dengan mukaku. gairahhsex.com  Aku ingin membuka mata, tetapi takut. Maka aku terus memejamkan mata rapat-rapat, sampai kurasakan Tante Mita  mengecup pipiku. Lembut sekali. Kiri dan kanan.
“Itu kadonya?” tanyaku memberanikan diri beberapa saat kemudian. Tante Mita  tersenyum.
“Itu kado spesial dari Tante,” katanya lembut.
“Tapi kalau kamu mau yang lain, kamu boleh minta. Apapun yang kamu mau….”
“Aa…aa…aku… tidak berani…” jawabku terbata-bata.
“Padahal kamu kepingin sesuatu?” dia mendesak sambil merapatkan body-nya.
Aku semakin deg-degan. Tonjolan toketnya yang montok menekan lembut lenganku. Aku tidak berani membalas tatapan matanya.
“Bilang dong…” suara Tante Mita  semakin lembut. Wajahnya semakin dekat, aku jadi semakin tidak berani mengangkat wajah.
Sampai tiba-tiba kulihat tangannya merayap… meraba selangkanganku!Aku terkejut, bercampur malu karena ketahuan saat itu aku sudah “ngaceng”. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Tante Mita  waktu itu, karena aku tetap belum berani melihat wajahnya, tetapi yang jelas dia malah memijit-mijit tonjolan batang kemaluanku yang tentu saja jadi semakin keras.
“Tante… aku…” Aku semakin tidak enak hati, sementara nafsuku semakin tinggi.
“Vaaan, kamu udah gede sekarang….,” bisik Tante Mita .
“Udah 17 tahun, udah dewasa…”
“Maksud Tante, aku boleh….”
“Kamu boleh apapun yang kamu mau, Sayang!”Berkata begitu, Tante Mita  menerkam mulutku dengan bibirnya.

Selengkapnya

Cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot, ngentot tante, cerita hot, cerita orgasme, tante sange, cerita ngentot berjilbab, jilbab ngentot, cerita sex 2016, cerita lucah, cerita mesum, kisah dewasa, cerita terbaru, kisah bokep, kisah dewasa, kisah sex, kisah seks

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hadiah Ultah Tante Mita"

Posting Komentar

Please Bantu Saya, Like This !!!

×

Powered By Blogger Widget and Get This Widget